Sebuah Examen Kecil di Hari Kamis


Sebuah perasaan tidak enak menyelinap di hati ketika istri saya menutup ponselnya tiba-tiba di kejauhan saat saya menjawab pertanyaannya,”Apakah kamu sudah makan?”. Sejatinya saya bisa mengabaikan perasaan itu. Namun, beberapa menit kemudian ada yang mengganggu. Sebuah bisikan bilang, “Kamu mestinya tersinggung diperlakukan begitu!”

Untung saya langsung paham dengan pola ini. Pertanyaan diajukan untuk menggoyang ego saya. Saya diminta berontak dengan sikap istri yang menutup ponsel tiba-tiba sebagai sinyal kemarahan. Sejenak saya merasa sedikit gondhok dan ada keinginan membalas, beruntung dalam sepersekian detik saya bisa langsung menjawab provokasi yang muncul. Dengan tegas saya bilang pada si ego,”Ya, saya memang layak diperlakukan seperti itu, Kamu mau apa?!”

Sontak, ego langsung ciut dan berlalu. Hati saya pun kembali tenang. Semua berjalan singkat, dalam hitungan detik. Namun, saya tergelitik dengan perasaan saya ini. Dalam hati saya bertanya, kenapa saya mesti sakit hati kalau saya sendiri yang memulainya. Sejenak saya coba menyadari respons saya terhadap telepon istri.

Soal Makan
Ceritanya, hari itu [ Kamis, 22/4/2021 ] istri saya wawancara [ sejak siang ] dengan seorang pelaut yang sekaligus mengundangnya buka puasa. Namun rupanya saat ditawari makan di waktu buka, dia tidak makan besar, hanya makan kecil karena teman-teman yang lain tidak makan. Padahal sejak siang belum makan. Saat pulang, perutnya berontak.

Dia pun telepon saya hendak membeli makan. Saya pun heran kok bisa lapar padahal katanya diundang buka puasa. Saya bertanya dan dia pun menjawab, “Teman-teman enggak pesan makan besar karena biasanya pas buka hanya makan kecil. Makan besarnya nanti.” Jadi, karena tidak ada yang pesan makanan [ besar ] maka dia memutuskan tidak pesan.

Dan saya pun menjawab, “Kenapa tidak pesan saja, nggak masalah, tho?” Namun, rupanya jawaban ini dianggap menyalahkan. Lalu, ditutuplah telepon dengan tibat-tiba. Saya langsung sadar dengan reaksi ini. Beberapa detik saya merasa biasa saja.

Tiba-tiba, ada yang menggoyang ego saya. Terjadilah rentetan gejolak seperti yang saya sampaikan di awal cerita. Saat itu, saya ingin segera menyelesaikan supaya tidak berlarut. Prinsipnya, jangan diberi toleransi, dan diajak diskusi.

Saya ingat catatan yang diberikan Romo Paul Suparno SJ tentang Praktik Pembedaan Rohani dan Pemilihan Menurut Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola. Dikatakan demikian, salah satu sikap yang terpenting dalam menghadapi godaan adalah tegas tanpa tawar-menawar. Sekali kita sadar bahwa kita digoda, kita harus terus menghentikan gagasan atau tindakan itu. Kita harus berani berkata tidak terhadap godaan.

“Kita jangan bermain-main dengan roh jahat, karena akan kalah. Lihat saja pengalaman Adam dan Hawa yang mencoba menanggapi setan sejenak, dan akhirnya mereka kalah,”kata Romo Paul.

Rahmat Tuhan
Esoknya saya mengonfirmasi apakah memang istri saya marah. Ternyata benar. Saya sampaikan permintaan maaf dan bilang semoga ke depan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Saya menimbang-nimbang pengalaman ini lalu saya bersyukur atas rahmat Tuhan, yakni saya bisa mengampuni baik diri sendiri maupun istri saya. Rahmat itu pula yang memampukan saya bisa dengan mudah minta maaf. Terus terang, tanpa rahmat ini saya sering kesulitan minta maaf, meski persoalan kecil sekalipun.

Rahmat Tuhan ini saya sadari sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam diri saya. Puji Tuhan, Dia tidak pernah meninggalkan kita dalam berbagai situasi yang sulit sekalipun, apalagi si penggoda itu selalu berkeliling seperti singa yang mengaum terus-menerus. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Begitu kata Santo Petrus [ bdk. 1 Petrus 5: 8 ].

Di sisi lain, metode merendahkan diri serendah-rendahnya ini bagi saya efektif untuk menaklukkan ego. Dan lebih sering berhasil, sekaligus efektif juga berdampak langsung.

Bersyukur pula bahwa saya sadar atas rasa lekat tak teratur [ kurangnya cinta yang menyebabkan rasa kecil hati ] yang sedang menjelma dalam bentuk lain. Ini tidak pernah berhenti. Namun, puji Tuhan saya bisa kendalikan dalam hitungan detik.

Poin penting yang perlu menjadi catatan, pertama, saya masih harus menjaga mulut supaya tidak mudah menyakiti hati orang lain. Kedua, tetap waspada dengan rasa lekat tak teratur [ rasa kecil hati ] yang sering menjelma menjadi bentuk apa saja. Ketiga, bila suatu kali sulit melakukan tindakan baik, mohon rahmat Tuhan supaya dimampukan. Keempat, Tuhan memang sungguh hadir dalam hidup kita sehari-hari, memampukan kita setiap saat untuk berbuat baik dalam berbagai bentuk dan cara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s