Pelajaran Cinta dari Rasa Sakit


Refleksi ini dibuat tahun 19 Juni 2011. Semoga masih bisa bermanfaat untuk kita semua.

TEBAL rasanya bibir ini saat setetes albotyl [ sekarang sudah tidak boleh dipakai untuk mengobati sariawan ] melesak ke dalam cekungan luka sariawan yang menganga terbuka di bibir kananku sebelah dalam. Pedih merayap perlahan ke muka hingga kepala. Sesaat, rasa tidak nyaman itu berlangsung, usai itu hilang.

Sudah tiga kali pengobatan tak mengenakkan itu kulakukan. Hasilnya belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Meski perih, biarlah rasa itu kujejalkan dalam-dalam menembus kepalaku. Habis, aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi penyakit satu ini. Satu-satunya pengobatan yang kelihatannya ampuh sih dengan meneteskan albotyl yang pedih perih tiada kepalang.

Tapi, sudah beberapa hari luka ini tidak juga kunjung sembuh. Tampaknya aku harus lebih sabar dan memberanikan diri setiap kali hendak meneteskan obat sariawan ini.

Huh! Sudah dua kali ini dalam sebulan aku menderita sariawan. Sebelumnya memang butuh waktu yang cukup lama, sekitar seminggu lebih untuk bisa sembuh kembali. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak dengan penderitaan di mulut ini. Makanya, hanya satu tekad yang muncul, cepat sembuh!

Aku sendiri heran, sudah berulang kali sakit seperti kualami. Sariawan yang muncul- lenyap atau hilang- timbul. Periode waktu tidak tentu, tetapi relatif stabil menyerang mulutku entah di bibir, lidah atau bagian mulut sebalah dalam lain. Aku tak tahu apa penyebabnya. Kata dokter sih, kurang vitamin C. Tapi, bukankah aku sudah kerap kali mengonsumsi vitamin, bahkan tak hanya vitamin C, puluhan vitamin dan mineral lain juga kuasup?

Lalu, apa? “Stres mungkin,” kata temanku. Stres apa ya? Sepertinya tiada masalah yang harus membuatku berpikir mendalam sehingga aku harus menderita sakit seperti ini. Apakah karena pekerjaanku? Mungkin saja! Jadual berubah, situasi tubuh berubah. Tapi, bukankah sebelumnya jadualku berubah, sariawan tetap saja gemar menyambangi mulutku?

Aku sendiri merasa nyaman dengan jawaban yang keluar dari pengalamanku. Kelihatannya itu semua gara-gara kegigit. Ya, bisa jadi gigitan yang kecil karena makan yang terburu-buru menyebabkan semua ini. Ah, sudah berulangkali aku menyadarinya dan tahu soal ini, tetapi tetap saja terjadi.

Satu kebiasaan buruk yang tak hanya terjadi padaku, melainkan juga kawan-kawanku adalah makan terlalu cepat. Seolah semuanya ingin ditelan dalam satu sesi. Itu karena saat aku makan, sambil melakukan pekerjaan lain,entah mengetik, melihat televisi, atau mengobrol mungkin.

Seharusnya ketika makan, fokus harus pada makanan itu sendiri. Sehingga semua berjalan dalam kesadaran kita. Makanan yang ditelan bulat-bulat pun bakal membawa masalah pada lambung. Seharusnya sebelum ditelan, makanan harus dikunyah setidaknya belasan kali. Sehingga ketika ludah mengeluarkan enzim dengan mudah dapat menghancurkan makanan. Makanan pun siap masuk dalam lambung untuk diolah dengan mudah.

Makanan yang ditelan buru-buru akan menyebabkan lambung bekerja berat. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit maag. Lambung yang luka ringan akibat makanan yang tak dikunyah dengan benar. Gangguan lambung, kata dokter, juga bisa menyebabkan mudahnya mulut terserang sariawan. Nah, siklusnya kelihatan, kan!

Rasa Syukur
Sakit, mengingatkanku pada keadaan sehat yang kerap kali kulewatkan. Kesadaranku seolah tenggelam oleh hal yang terlalu biasa. Sehat menjadi hal yang biasa Sehingga saking biasanya menjadi terlupakan. Rasa syukur atas kesehatan itu menjadi pudar karenanya. Akibatnya, saat lengah muncullah sakit yang kembali mengingatkan bahwa seharusnya aku hati-hati dan waspada dengan keadaan tubuhku.

Ya, perhatian pada diri sendiri pada dasarnya merupakan bagian dari upaya mencinta diri sendiri. Cinta diri sangat jauh berbeda dengan egois. Cinta diri lebih menunjuk pada keadaan dimana aku mensyukuri semua berkah yang hadir dan ada pada diriku, entah itu bentuk hidung, bentuk mata, intinya keadaaan seluruh raga dan intelektualitasku.

Sementara egois mengacu pada keadaan dimana aku berupaya memenuhi seluruh keinginanku yang bisa jadi bukan hal vital tanpa batas, terus menerus dan kerapkali sikap ini merugikan orang lain, menyunat hak orang lain.

Banyak orang tidak tahu bahwa dirinya sendiri memang harus dicintai bahka dimanjakan. Orang akan cenderung berpikir sebaiknya aku tidak membuat manja diri sendiri. Sikap ini, katanya akan membuat kita malas. Padahal, memanjakan diri sendiri bukanlah didasari oleh rasa malas. Memanjakan diri sesuai kebutuhan tidak akan membuat tubuh kita menjadi loyo, melainkan justru lebih produktif.

Sama seperti mesin yang harus di tune up setiap kali, demikian juga tubuh kita, bahkan jiwa kita. Ketika sudah saatnya untuk digunakan, tubuh ini akan kembali bugar dan segar untuk melanjutkan produksi selanjutnya dalam pekerjaan-pekerjaan setiap hari. Maka, nikmatilah hidup dan rasailah surga dunia yang bisa ditempuh dalam banyak cara entah itu spa, meditasi, pijat, tidur, yoga, dan masih banyak lagi kegiatan mengasyikkan lainnya.

Sakit tentu saja tidak enak. Tapi dalam kesakitan itu kita menjadi sadar bahwa tubuh ini, jiwa ini terbatas. Tanpa sakit, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya sehat. Demikian pula tanpa adanya rasa pedih, kita tidak akan tahu rasanya nyaman dan menyenangkan. Dapatkah Anda betul-betul memahami arti ‘dingin’ sebelum Anda sendiri merasakannya?

Bisa saja kita tahu rasa tidak sakit dengan melihat orang lain yang mengalaminya. Tapi sejauh mana rasa-perasaan bisa kita alami juga, kalau kita tidak mengalaminya sendiri.

Jadi, mungkin itulah kenapa kita diberi rasa sakit. Mungkin itu pula kenapa sakit menjadi bagian dalam perjalanan mencari cinta. Sakit yang kita rasakan akan membuat kita berhati-hati sehingga tindak tanduk kita jangan sampai membuat orang lain mengalami hal serupa.

Bayangkan bila kita tidak tahu kalau membohongi orang lain itu menyakitkan hati. Bisa jadi kita akan senantiasa dengan senang hati berbohong terus menerus. Ya, memang bisa jadi kita tidak peduli orang lain sakit sehingga bohong terjadi terus menerus. Karena itulah rasa sakit ada, agar kemudian ketika balasan setimpal menimpa diri kita, paham, mengerti dan kesadaran akan tidak menyenangkannya dibohongi membuat kita belajar untuk mencinta.

Sakit membuat hidup makin berkembang. Sama seperti tanaman yang harus dipotong daun-daunnya supaya tumbuh buah yang banyak, kerapkali ada bagian-bagian dalam hidup kita pun harus dipotong sedemikian rupa sehingga rasa sakit menyeruak dari dalam hati. Tapi, dari situ naiklah tingkat kualitas hidup kita. Emas pun harus dipanaskan dalam bara apai yang menyala supaya menjadi gemerlap dan indah.

Jadi, tak heran bila Yesus pun mengatakan “Siapa yang tak berani memikul salibnya, dia tak layak mengikuti Aku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s