Merenungi Perjalanan Dua Murid ke Emaus [ 1 ]


Pengalaman dua murid Yesus yang sedang menuju Emaus seolah menampar mukaku ketika Yesus berkata, “Hi kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu…..”

Saat itu Yesus menegur Kleopas dan satu lagi murid yang tidak disebut namanya (anggaplah itu masing-masing dari kita) yang tidak percaya bahwa penderitaan dan kematian Yesus sudah dinubuatkan, demikian juga dengan kebangkitanNya.

Kata percaya buat saya ini menjadi kunci pokok untuk menunjukkan betapa sebenarnya mereka (para murid) sudah tahu semua nubuat itu tapi ragu, skeptis, dan mungkin tak peduli karena masih memegang keyakinannya sendiri, menganggap yang dipikirkannya itu benar, nyata dan harus terjadi.

Jawab mereka, “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi,  yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

Ya, mereka berpikir Mesias datang untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan Romawi. Padahal bukan itu maksud nubuat nabi-nabi. Tujuan kedatangan Mesias lebih besar dari yang mereka pikirkan dan inginkan.

Saya pikir sama dengan diri saya yang kerap menganggap jalan yang dikehendaki Tuhan adalah jalan yang sudah saya tempuh selama ini. Kita menganggap Tuhan pasti inginnya seperti yang kita pikirkan, padahal belum tentu.

Yang paling kerap terjadi lagi, selama perjalanan hidup kita pasti banyak mengalami jatuh bangun. Saya yakin banyak dari kita menyadari betul peran Tuhan yang selalu hadir dan menemani kita di saat sulit. Namun, seringkali pula kita merasa seolah Tuhan tidak pernah hadir menemani kita. Tuhan seolah jauh. Apalagi di saat sulit seperti pandemi sekarang ini.

Mungkin banyak dari kita berteriak, “Tuhan Engkau dimana?” Kita merasa kehilangan Tuhan. Padahal Tuhan mendengarkan kita, dan menemani kita pergi ke arah perjalanan yang seharusnya tidak kita lakukan.

Namun saat kita mulai membuka diri, mempersilakan Tuhan masuk dalam hati dan seluruh kesadaran diri, kita baru sadar. Oh ya, itu tadi Tuhan. Seperti pengalaman dua murid yang akhirnya mempersilakan Yesus yang adalah orang asing (dalam pandangan saat itu) itu masuk dan makan bersama dengan mereka. Perjamuan makan memecah roti (ekaristi) membuat mereka sadar bahwa orang asing itulah Tuhan Yesus. Bukan orang lain.

Seperti saya dan mungkin juga Anda, ketika hati kita gundah gulana, runyam, sedih, kecewa seperti dua murid, dan mungkin terasa seperti tidak ada harapan, tetaplah undang Tuhan untuk makan bersama kita (lewat ekaristi setiap hari mungkin). Saat itulah, mata kita terbuka dan kita akan sadar bahwa Tuhan selalu hadir dan menyertai kita dalam situasi apa pun.

Setelah sadar, kita bakal kembali ke arah perjalanan yang benar, kembali pulang ke Jerusalem dan membagikan suka cita ini pada semua orang.

Abdi Susanto
26/04/2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s