Tuhan Menaruh Hasrat itu Dalam Hatiku


Kalau dikatakan oleh Santo Ignatius Loyola bahwa Tuhan berbicara pada kita lewat kehendak/hasrat yang kita miliki, itu saya alami dalam menggeluti dunia tulis menulis.

Sejak SMA, saat itu saya bersekolah di Seminari Menengah Mertoyudan, saya sudah berhasrat bisa menulis. Keinginan itu berlanjut saat sudah masuk kuliah filsafat ketika menjalani tahun formasi sebagai filosofan di STF [ Sekolah Tinggi Filsafat ] Driyarkara, Jakarta di Serikat Jesus.

Hasrat itu tentu saja tersalurkan lewat tugas-tugas mingguan yang diberikan dosen, meski saya sering merasa sedikit terbebani di awal-awal kuliah.

Saya juga mulai mencoba-coba kirim tulisan ke media. Ke Jurnal Kampus, Majalah Hidup, Majalah Rohani, dan lain-lain. Saya niatkan agar tiap hari menulis apa saja. Puisi, maupun opini.

Keluar dari Serikat Jesus tahun 2001 saya terdampar di sebuah media, Tabloid Senior pada waktu itu. Sekarang sudah bubar. Ini media milik Grup Kompas Gramedia, satu unit dengan Tabloid Bola.

Dari situ saya memulai karier menjadi seorang wartawan. Padahal saat keluar Serikat Yesus saya bilang pada diri sendiri, saya tidak ingin jadi wartawan. Rupanya, ceritanya lain. Tuhan menaruh hasrat (ingin bisa menulis) itu dalam hati saya dan saya mengikutinya. Jadilah itu jalan hidup saya. Saya menjadi wartawan di beberapa media.

Jadi, kalau kita ingin tahu anak-anak kita cocoknya jadi apa di masa depan, lihatlah kecenderungan, hasratnya saat dia masih kecil. Ada teman saya yang saat kecil saat ditanya mau jadi apa kelak di masa dewasa selalu jawab,”yek” yang maksudnya adalah proyek. Sekarang dia menjadi orang lapangan betul yang mengurusi proyek-proyek pembangunan apartemen, dan gedung-gedung.

Mungkin yang lain punya cerita sendiri. Hasrat memang menjadi bagian kunci dalam spiritualitas Ignasian. Di setiap awal doa, Ignatius selalu menyarankan agar kita mohon diberi rahmat kehendak. Tergantung kita hendak merenungkan apa. Kalau kita sedang merenungkan Yesus yang berbelas kasih, maka mohonlah kehendak agar kita juga punya keinginan untuk selalu berbelas kasih.

Jadi, jangan remehkan hasrat, keinginan, apalagi kehendak. Menyadari hasrat kita berarti menyadari kehendak Tuhan dalam diri kita, kata Pater James Martin SJ penulis buku Spiritualitas Jesuit dalam Keseharian. [ BACA JUGA : Mengenali Kehendak Tuhan Lewat Hasrat – Refleksi lebih dalam dan lengkap tentang peran hasrat dalam hidup kita ].

Abdi Susanto 02/07/2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s