Sepanjang Hidup, Merespon Visi Latihan Rohani


Bagaimana kelak kisah hidup akan diceritakan pada anak cucu kalau tidak tahu visi hidup kita? Kisah hidup kita bakal diisi dengan menjawab visi itu terus menerus.

Coba bayangkan momen saat Anda meninggal dan dimakamkam. Lihatlah, jenazah Anda terbaring dalam peti terbuka. Perhatikan ekspresi wajah Anda. Lihatlah orang-orang yang menghadiri pemakaman. Berjalanlah perlahan dari bangku ke bangku. Lihat wajah mereka. Berhenti di setiap orang dan perhatikan yang dipikirkan, dirasakan?

Atas kotbah yang diberikan, cermati apa yang dikatakan tentang Anda? Apakah Anda menerima semua ucapannya? Kalau tidak, perhatikan hambatan apa yang merintangi. Hal-hal baik mana dari yang dikatakan tentang diri Anda itu mau diterima? Bagaimana rasanya mendengar dia berkata-kata begitu?

Perhatikan sekali lagi wajah-wajah sahabat dan teman yang menghadiri pemakaman. Gambarkan semua kenangan baik yang akan mereka ceritakan kalau pulang ke rumah usai penguburan. Bagaimana perasaan Anda sekarang? Apakah ada yang ingin Anda katakan pada mereka masing-masing sebelum pulang?

Juga pesan terakhir sebagai jawaban atas pikiran dan perasaan mereka terhadap Anda. Jawaban yang mungkin tidak akan sampai mereka sekarang ini. Katakanlah dan rasakan juga apa ini akibatnya pada Anda?

Sekarang upacara sudah usai. Bayangkan Anda berdiri di atas makam dengan pandangan mengikuti semua sahabat pergi meninggalkan kuburan. Bagaimana perasaan Anda? Tinjaulah kembali hidup Anda dengan segala pengalaman. Apakah semua itu layak dihargai?

Sadari kembali hidup Anda sekarang. Nyatanya, Anda masih hidup dan diberi waktu. Pikirkan, kenangkan diri Anda sendiri. Apakah Anda melihat diri sendiri secara lain atau berperasaan lain tentang diri sendiri akibat latihan ini?

Bukan Ngalup

Konsiderasi yang dibuat seorang Jesuit India, Pater Anthony de Mello ini kemudian akan memancing pertanyaan,  kisah apa yang hendak kubuat selama sisa hidupku di dunia ini? Apakah aku mau membuat cerita indah dan manis atau cerita buruk tentang diriku? Jawabannya jelas, cerita manis.

Membayangkan kematian bukan berarti ngalup (red : Jawa = berpikir mengada-ada seolah-olah menginginkan hal itu terjadi), melainkan melatih visi.  Juga membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya membangun kisah hidup yang bermakna.

Jangan sampai saat usia sudah tak lagi muda, baru sadar belum melakukan apa pun yang berarti. Dan baru ngeh (Jawa: ingat), kita belum menenun kisah-kisah indah yang layak diceritakan kepada anak cucu.

Maka, pesan Paus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54 ini relevan sekali. Katanya, “Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang perlu mengisahkan dan mengenakan pada dirinya cerita-cerita untuk menjaga hidupnya. Kita tak hanya menenun pakaian, tetapi juga menenun cerita. (Bdk. Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54).

Tujuan Lebih Tinggi

Pada dasarnya renungan kematian akan membawa pada pemahaman tentang tujuan hidup. Tentu kita tidak ingin cerita-cerita baik yang kita buat tidak ada isinya. Jangan sampai kisah ini sekadar memenuhi keinginan agar orang lain mengenang kita sebagai orang baik.

Kita perlu isi dengan tujuan yang lebih tinggi nilainya. Karena itu perlu ada pendasaran kuat.  Santo Ignasius Loyola Pendiri Ordo Serikat Jesus  dalam buku Latihan Rohani menyebutkan visi kehidupan yang bisa mendasari cerita hidup yang kita bangun,  disebut Asas dan Dasar.

Dia menuliskan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan demikian ia memperoleh keselamatan jiwanya. Dan segala sesuatu yang lain di dunia diciptakan untuk manusia dan bahwa mereka dapat membantunya untuk mencapai tujuan akhir yang untuknya manusia diciptakan.” (Spiritual Exercise, 23).

Visi ini keluar dari kesadaran mendalam akan cinta Alllah yang besar. Respon atas cinta itulah yang kemudian terwujud dalam pujian, hormat dan pengabdian pada Allah selama hidup. Jadi, visi ini mengarahkan kita pada sumber kehidupan.

Hal-hal yang kita putuskan untuk kita lakukan sehari-hari bisa jadi mendorong kita menjauh dari Allah atau menarik lebih dekat pada Allah. Dengan kesadaran akan visi ini, kita diajak untuk selalu melihat motivasi segala tindak-tanduk. Arahnya agar kita selalu mendambakan dan membiarkan Allah merasuki hidup kita.

David L Fleming dalam What is Ignatian Spirituality? menyebutkan, Ignasius melihat Allah sebagai sahabat yang selalu hadir, tidak jauh dari hidup kita. Allah selalu terlibat dalam detail hidup kita.

Karena itu, perjalanan hidup yang berliku bahkan sulit sekalipun tidak bakal menakutkan. Perjalanan yang bisa jadi melewati banyak tantangan, kesulitan dan gejolak. Sehingga hidup kita bisa disebut sebagai sebuah peziarahan.  Peziarah bukan pengembara. Juga bukan pelancong karena peziarah memiliki tujuan.

Menjawab Visi

Jadi, marilah kita isi hidup dengan perbuatan-perbuatan yang selalu didasari pada motivasi untuk menjawab cinta Allah.  Dia selalu hadir dan terlibat dalam hidup kita bahkan dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan atau tampak suram sekalipun seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam keadaan seperti ini kita tetap bisa berbuat dan menorehkan cerita positif melalui kepedulian kepada sesama entah lewat uang, barang, sekadar sapaan dan obrolan yang menguatkan, atau apa pun. Cerita manis itu juga bisa berupa sikap positif dalam menjalani semua aturan social / physical distancing yang diwajibkan pemerintah.

Apa pun juga bisa kita lakukan, termasuk yang kelihatannya sepele seperti mendoakan orang sakit, pekerja medis, pemerintah atau siapa pun. Semuanya sangat berarti asal dijalani dengan hati ikhlas. Dan semangat ingin menjawab cinta Allah.

Perjalanan menyusun cerita hidup bagai sebuah upaya terus-menerus menjawab pertanyaan, “Apa arti hidup ini?”. Ini merupakan visi yang jawabannya hanya bisa diberikan oleh hati, bukan akal atau pikiran. Hati menjadi landasan dalam menoreh cerita manis hidup kita masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s