Menggali Kelekatan Tak Teratur


Tahun lalu (2020), seperti bulan-bulan sekarang ini (Maret – Mei) saya sedang gemar-gemarnya merenung dan menulis refleksi. Saat mulai menyelesaikan tulisan hasil refleksi pertama, ada rasa yang begitu kuat mendorong saya untuk membagikannya ke media sosial [ dalam hal ini Whatsapp ].

Namun sekilas ada keraguan. Khawatir disebut menggurui, khawatir dibilang sombong, khawatir dianggap terlalu pamer, dan terutama khawatir dianggap tidak ada kerjaan. Beberapa hari saya bergelut dengan perasaan-perasaan tidak menyenangkan yang menghinggapi ini. Saya berada pada posisi, antara saya share/bagikan atau tidak.

Di sisi lain, saya percaya, pengalaman rohani hasil refleksi pasti memberi efek [ bagi orang lain ] apa pun bentuknya bila dibagikan. Dan akan membuat hati saya lebih plong, bahagia bila dibagikan. Akhirnya dengan pertimbangan itu, saya mengesampingkan kekhawatiran-kekhawatiran itu.

Setiap minggu saya bagikan hasil refleksi yang saya tulis ke media sosial dan banyak juga yang memberi respon. Kebanyakan positif. Ada yang bilang, terima kasih telah memberi kekuatan dan peneguhan. Bahkan ada yang menunggu hasil refleksi saya selanjutnya.

Gali Lebih Dalam
Namun, saya lebih ingin mengajak Anda semua untuk melihat kekhawatiran yang saya alami, sebagai refleksi juga. Mari kita lihat lebih dalam apa yang sedang terjadi pada waktu itu. Apakah ada sesuatu yang bisa kita pelajari supaya kita bisa maju dalam hidup rohani?

Ketika beberapa hari saya bergelut dengan kekhawatiran yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya menyadari bahwa dalam diri saya masih ada satu bentuk kelekatan tidak teratur yang untungnya saya bisa atasi saat itu.

Untuk menggali lebih dalam, saya ajak untuk melihat kenapa saya begitu khawatir [ dibilang sombong, dianggap pamer, tidak ada kerjaan, dll ]. Pada dasarnya ketika saya tanya lagi : kenapa saya merasa begitu, jawabnya adalah saya tidak ingin orang lain menganggap diri saya buruk, jelek, tidak pintar, dan segala macamnya.

Selanjutnya masih dengan pertanyaan, kenapa? saya gali lagi. Dan saya melihat bahwa saya masih punya kecenderungan untuk tidak ingin diremehkan. Tidak ingin diremehkan inilah yang merupakan bentuk rendah diri [kecil hati ] yang mesti saya sadari. Inilah akar dari kelekatan yang selama ini mengganggu saya.

Karena rupanya ini [rendah diri ] sering terbungkus oleh berbagai macam hal [ sikap ]. Ambil contoh misalnya ketika dalam satu kelompok ada diskusi, saya cenderung tidak ingin ketinggalan memberi tanggapan dan berusaha tampil dan kelihatan lebih pintar dari yang lain. Bentuk yang lain, saya cenderung tidak mau kalah dalam satu kompetisi, entah itu kompetisi apa pun. Dalam hal rohani pun demikian. Kalau orang lain lebih baik bisa jadi saya akan cemburu dengan kelebihan teman saya itu.

Kecenderungan saya untuk perfeksionis pun saya lihat muncul dari rasa tidak ingin diremehkan ini. Karena saya tidak ingin diremehkan, maka saya berusaha menampilkan diri sempurna. [ Baca juga refleksi yang menggambarkan kelekatan tidak teratur : Gol Penyelubung Rasa Rendah Diri ].

Untung, kesadaran atas mekanisme pembelaan diri yang mencari bentuknya dalam berbagai macam sikap itu sudah saya sadari sejak saya duduk di Sekolah Menengah Atas [ Seminari Mertoyudan ]. Saat ini, mekanisme itu mungkin sudah banyak berkurang dan bisa teratasi dengan sendirinya. Namun rupanya itu terus menerus masih menjadi ganjalan.

Ya, saya sendiri merasa itulah metanoia, pertobatan terus-menerus harus saya jalani. Menyadari kelekatan tidak teratur itu kemudian mengolah dan mengatasinya agar kemudian saya merdeka untuk bisa berkembang lebih jauh dan merdeka untuk melayani orang lain lebih baik.

Yang disebut sebagai ‘kecil hati’ atau minder dan waktu zaman SMA saya sebut sebagai akar masalah ini datang dari pengalaman buruk masa kecil ketika saya sering tidak dianggap oleh orangtua saat orang-orang dewasa berkumpul dan saya ikut nimbrung. Saya lupa siapa yang mengatakan hal itu, tapi saya masih ingat, salah satu orangtua saya menyuruh agar saya pergi dan tidak perlu ikut-ikutan nimbrung ketika para orang tua bincang-bincang.

Rupanya pengalaman ini masuk bawah sadar saya dan menjadi persoalan di kemudian hari. Dia mencari bentuknya dengan berbagai macam mekanisme pertahanan diri seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Dan refleksi terus-menerus lah yang bisa membantu untuk mengenali, menyadari. Tentu, keinginan/dorongan untuk berubah lebih baik menjadi syarat agar bisa bebas dan merdeka.

Ini salah satu bentuk latihan rohani yang oleh Santo Ignatius, dalam buku Latihan Rohani, disebut dalam anotasi 1 sebagai berikut :

“Yang dimaksud dengan kata latihan rohani ialah: setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, doa lisan dan batin, serta segala kegiatan rohani lainnya, yang akan dikatakan kemudian. Sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh, dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa-lekat tak teratur, dan selepasnya dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita.”

Namanya latihan, tentu saja seperti yang disampaikan Magister Novisiat Serikat Yesus Indonesia, Rm. Agustinus Setyodarmono SJ atau sering disapa Rm Nano harus terus-menerus dilakukan. Bisa jadi sepanjang hayat kita. Semoga, refleksi saya bisa membantu teman-teman semua untuk terus menerus mengenali diri kita dan berkembang menjadi lebih baik setiap saat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s