Ekaristi, Menjahit Relasi yang Terkoyak dengan Allah dan Sesama


Dosa yang kita lakukan setiap hari membuat hubungan manusia dengan Allah selalu pecah dan terbelah. Ekaristilah jalan menjahit kembali relasi itu terus-menerus

Pengalaman merayakan Ekaristi online di satu sisi menimbulkan kerinduan mendalam akan hosti suci yang bisa disantap langsung. Namun di sisi lain perjamuan virtual ini justru memberi kesempatan lebih intensif bagi semua orang untuk merayakannya. Bersama keluarga dan setiap hari. Setidaknya itu yang saya rasakan selama menjalani lokdon selama tiga bulan.

Lama-lama kesempatan ini menimbulkan ketagihan, dalam arti positif, ketagihan pada Tuhan. Tentu ini kecenderungan baik. Bahkan kerindungan untuk intim dengan Tuhan ini mesti menjadi kebutuhan. Sekaligus sebagai sarana untuk memperbaiki tenunan hidup yang sering kita koyak sehari-hari. Sebagai sebuah kesempatan untuk bertobat terus-menerus.

Siapa sih yang merasa bahwa hidupnya setiap hari bebas dari dosa? Paling tidak dalam pikiran atau kata, kita pasti berbuat dosa. Tuhan Yesus dalam Matius 5:28 menyebutkan,”Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya.” Itu artinya, meski baru tahap berpikir pun tetap dianggap melakukan kejahatan itu.

Demikian juga bila kita berpikir buruk pada orang lain atau tentang apa pun. Bisa jadi itu hanya kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa kecil. Namun, bila tidak dibersihkan, akan menjadi sampah yang membuat hidup kita betul-betul kotor. Ibarat plastik seukuran pembungkus es lilin, meski kecil namun bila jumlahnya satu tong sampah (40 liter) bakal membuat saluran selokan rumah kita mampet.

Begitu juga dengan hati. Setiap hari, sampah-sampah itu harus dibersihkan. Maka, seperti inilah doa yang kita ucapkan di awal Ekaristi (Doa Tobat) :

“Saya mengaku, kepada Allah Yang Mahakuasa, dan kepada Saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon, kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus, dan kepada Saudara sekalian supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita. Amin.”

Kita mengaku bahwa dosa tidak hanya berlangsung dalam perbuatan, tetapi juga dalam pikiran dan perkataan. Kita juga mengaku, kesalahan tidak hanya pada Tuhan tetapi juga kepada sesama. Pengakuan itu menyiratkan betapa hidup manusia selalu terpecah belah, terkoyak.

Kemanusiaan kita begitu miskin maka butuh Allah yang Maharahim untuk menyucikan diri. Kita juga butuh doa-doa dari saudara-saudara yang lain dalam persekutuan sebagai anak-anak Allah untuk bersama-sama menghadap Tahta Allah. (Bdk.Ekaristi : Mgr.I.Suharyo dalam Ekaristi : Meneguhkan Iman, Membangun Persaudaraan, Menjiwai Pelayanan).

Kenangan yang Menyembuhkan
Ekaristi, seperti tertuang dalam Doa Syukur Agung khususnya pada Dialog Pembuka Prefasi di dalamnya dikenang perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya sebelum Ia wafat disalib. Kita mengenangkan peristiwa (penderitaan dan pengkhianatan) itu dan mengingatkan Allah Bapa akan pengorbanan Yesus yang mendamaikan manusia dengan Diri-Nya.

Kenangan itu punya daya yang memurnikan dan menyembuhkan serta mengembangkan persaudaran sejati dengan anak-anak Allah lain. Sebagai manusia, kita cenderung menghindari ingatan-ingatan akan hal-hal yang menyakitkan supaya hidup terasa damai dan membahagiakan.

Namun, Ekaristi mengajari kita untuk menghadapi kenangan-kenangan yang menyakitkan itu dengan tabah. Karena seberapa pun gelapnya kenangan akan peristiwa tertentu, kita tetap melihat karya Allah yang mengubah malam kelam pengkhianatan menjadi sebuah pendamaian.

Pengenangan akan sengsara dan wafat Tuhan Yesus atau kisah penebusan dalam ekaristi justru bisa memberi makna bagi hidup kita sendiri. Dunia saat ini dipenuhi kecemasan, ketidakpastian. Kita belum tahu kapan Pandemi Covid-19 bakal berakhir meski pemerintah sudah mulai menyiapkan cara hidup baru yang disebut New Normal.

Lebih dari itu, kita setiap hari sebenarnya telah berhadapan dengan berbagai persoalan yang membuat hati miris dan sedih. Dana bansos saja dikorupsi. Berbagai kisah tentang tindak kekerasan pada sesama, perundungan, dan berbagai sikap, kata juga perilaku yang jauh dari perikemanusiaan masih kita baca di media sosial dan media besar mana pun.

Pembunuhan demi pembunuhan terjadi utamanya yang mematikan dan mengerdilkan mental dan martabat kita sebagai manusia terus-menerus terjadi. Berseraknya informasi dan cerita yang menimbulkan kebencian dan syak prasangka menjadi makanan sehari-hari. Zaman sekarang, orang sudah tidak lagi menggunakan parang atau senjata api untuk membunuh sesamanya. Dengan mulut, kata-kata dan tulisan, kita telah berkhianat satu sama lain.

Syukurlah, pengkhianatan itu telah diubah menjadi rahmat berkat penebusan yang dilakukan Kristus bagi kita. Dengan misteri itu Kristus “menghancurkan maut kita dengan wafat-Nya, dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya”. (Bdk. Prefasi pada hari Raya Paska dalam Misal Romawi).

Tuhan telah memberikan diri-Nya untuk mendamaikan hidup kita yang telah terkoyak oleh dosa. Jadi, dalam setiap ekaristi yang dirayakan, kita selalu menjahit kembali benang relasi yang koyak akibat dosa itu.

Layak Dirayakan Setiap Hari
Upaya menerima sakramen setiap hari ini tidak hanya menjahit kembali benang relasi yang koyak akibat dosa kita, melainkan memberi ‘kesehatan’ bagi hidup setiap hari. Di dalamnya, kita tidak hanya mengenangkan Kristus yang sudah menebus dosa kita lewat tumpahan darahNya di salib melainkan juga menghadirkan kembali peristiwa itu.

Dalam setiap perayaan Ekaristi hadirlah karya keselamatan Allah, artinya Yesus Kristus yang disalibkan selalu hidup, menyertai, dan terlibat dalam perjuangan hidup kita. Itulah kenapa Ekaristi menjadikan hidup kita senantiasa baru.

Santo Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica (S.th.,IV, Qu.8o,art.10) menyebutkan:

“Ada dua hal yang harus dipertimbangkan berkenaan dengan penggunaan sakramen ini. Pertama, di sisi sakramen itu sendiri, kebajikannya yang memberikan kesehatan pada manusia; dan karenanya sangat menguntungkan untuk menerimanya setiap hari agar buah-buah sakramen [Ekaristi] juga diterima setiap hari.

Oleh karena itu Ambrosius berkata (De Sacram. iv): “Bila kapanpun darah Kristus ditumpahkan, ia ditumpahkan demi pengampunan dosa, saya yang sering berdosa, harus menerimanya sesering mungkin: saya membutuhkan obat yang teratur.”

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan ada pada sisi penerima, yang diharuskan mendekati sakramen terebut dengan rasa hormat dan devosi yang besar. Akibatnya, bila seseorang menemukan bahwa ia memiliki disposisi ini [yakni rasa hormat dan devosi yang besar], baik bila ia menerimanya setiap hari.

Karenanya Agustinus setelah berkata, “Terimalah setiap hari, agar ia menguntungkanmu setiap hari juga” ia menambahkan “Jadi hiduplah agar kamu layak menerimanya setiap hari.”

Yesus Sungguh Hadir
Sayang, banyak juga anak Allah yang telah dibaptis enggan atau hanya kadang-kadang, bahkan yang lebih ekstrem tidak pernah merayakan Perjamuan Kudus ini. Alasannya, membosankan, kurang kena di hati dan segala macam dalih yang bisa jadi masuk akal. Padahal, di situ Kristus benar-benar hadir memberi kelegaan bagi seluruh penderitaan dan segala kesusahan yang kita alami.

Katekismus Gereja Katolik 1374 menyebutkan dengan jelas, demikian :

Cara kehadiran Kristus dalam rupa Ekaristi bersifat khas. Kehadiran itu meninggikan Ekaristi di atas semua Sakramen, sehingga ia “seakan-akan sebagai penyempurnaan kehidupan rohani dan tujuan semua Sakramen” (Tomas Aqu., s.th. 3,73,3).

Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus” (Konsili Trente: DS 1651).

“Bukan secara eksklusif kehadiran ini disebut ‘real’, seakan-akan yang lain tidak ‘real’, melainkan secara komparatif ia diutamakan, karena ia bersifat substansial; karena di dalamnya hadirlah Kristus yang utuh, Allah dan manusia” ( MF – Mysterium Fidei 39).

Konstitusi Tentang Liturgi Suci no.7 juga mengungkap bahwa Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam korban misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib ( 20), maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi.

Sebuah pengalaman nyata dari Retno (41), sebut saja demikian menguatkan ajaran Gereja Katolik tentang kehadiran Kristus ini. Suatu kali wartawan sebuah media yang berkantor di bilangan Jakarta Barat ini bercerita.

Dalam beberapa kali perayaan ekaristi dia melihat kehadiran Kristus terutama pada saat Pastor atau Imam mengucapkan Doa Syukur Agung. “Altar itu seolah berputar dan romo yang memimpin misa juga terlihat berputar membelakangi umat. Tuhan Yesus ada di hadapan Romo yang sedang mengangkat Hosti Suci. Dia berada di atas awan. Cahayanya terang sekali,”ujarnya.

Saat berdoa, Retno yang dianugerahi rahmat melihat malaikat juga menyaksikan para malaikat ada di kanan dan kiri romo. “Terlihat juga cahaya terang di atas romo seperti lampu yang menyoroti seseorang di sebuah panggung,”ujar Retno.

Retno bahkan mengungkapkan, kehadiran malaikat dia lihat di bangku-bangku gereja yang kosong agar terisi penuh. Dia juga melihat kehadiran para malaikat ini di rumahnya saat merayakan Ekaristi secara online.

Pengalaman ini juga diperteguh dengan apa yang dialami Anto, sebut saja demikian. Pria warga Depok ini mengungkapkan, pada saat Romo berdoa (di awal Doa Syukur Agung ) agar Roh Kudus turun atas roti dan anggur supaya menjadi Tubuh dan Darah Kristus, sebuah kekuatan besar dirasakan di tubuhnya.

“Badan saya menjadi panas, juga berat. Saat itu juga saya merasa ada cahaya terang menerangi saya. Mungkin ini terjadi juga pada umat lain yang mengikuti misa,”ujarnya menceritakan pengalamannya saat mengikuti misa online. Cahaya ini terus tetap ada dan terasa masih panas sampai akhir Perayaan Ekaristi, kata Anto.

Anto melanjutkan, dia bersyukur mendapat anugerah luar biasa ini, yakni bisa merasakan energi yang disebutnya ilahi ini. Juga pada saat mendoakan Doa Komuni Batin. “Kekuatan besar itu seperti masuk ke tubuh. Saya percaya itu Tuhan Yesus. Apalagi ketika saya mengatakan Yesus aku mencintaiMu. Aku percaya Engkau sungguh-sungguh hadir dalam Sakramen Ekaristi,”ujarnya menegaskan.

Tentu kita tidak bisa membantah apa yang dialami Retno dan Anto karena ini sebuah pengalaman pribadi. Bisa jadi sangat subjektif. Namun, cukup untuk meneguhkan dan membuktikan betapa Tuhan memang hadir dalam setiap Ekaristi yang kita rayakan.

Mengapa Gagal Menghayati
Banyak cerita tentang kegagalan menghayati Ekaristi sebagai sebuah perayaan ungkapan syukur. Entah merasa kering atau tidak bisa menghayati seberapa penting dan relevannya Ekaristi bagi dirinya sendiri.

Bahkan saya sendiri pernah mengalami kekeringan yang luar biasa itu hingga tidak merasa perayaan ini punya arti bagi hidup pribadi. Saya pernah menolak pernyataan bahwa Ekaristi adalah sumber hidup orang Kristiani meskipun saya itu saat sedang menjalani pendidikan calon imam. Dari situlah awal dimana saya mengalami krisis iman.

Saya sedang menjalani pendidikan sebagai seorang Jesuit. Krisis di mulai tahun 1999 saat saya sedang belajar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara antara tahun 1998 – 2001. Karena krisis belum selesai, akhirnya saya mengundurkan diri dari Serikat Yesus (SY) pada 2001. Satu pertanyaan masih saya bawa waktu itu. Saya tidak percaya pada Kristu sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Baru pada tahun 2016, saya bertobat dan kembali percaya pada Kristus. Praktis selama 16 tahun lebih saya selalu mencari jawaban akan gejolak yang saya alami. Saat itu pula Ekaristi makin tidak bermakna bagi hidup saya.

Usai pertobatan itu, sepanjang tahun 2016 hingga sekarang (kadang-kadang), setiap kali merayakan Ekaristi saya selalu menangis entah di awal, tengah atau akhir perayaan. Di awal-awal saya sering merasa malu dengan hal ini. Namun saya sedikit terhibur karena Santo Ignasius Loyola pun mengalami hal sama di masa tuanya setiap kali merayakan Ekaristi.

Apa yang saya rasakan dalam Ekaristi, ini yang patut dicatat bagi semua orang beriman yang gagal menghayati Ekarsiti sebagai sumber hidup.

Pertama, kegagalan menghayati ekaristi terjadi karena kita tidak pernah merefleksikan hidup, mereview seluruh pengalaman dan kemudian menyatukan pengalaman jatuh bangun itu dengan penderitaan Kristus di kayu salib. Kita sering merasa bahwa hidup yang kita jalani terpisah dengan ekaristi yang sedang dirayakan. Lalu, terjadilah gap dan Ekaristi menjadi tidak relevan.

Maka, penting sekali menyiapkan diri sebelum menjalankan Ekaristi. Paling tidak sediakan waktu setengah jam atau minimal 15 menit menjelang Ekaristi untuk berdiam diri merenungkan dan berefleksi pengalaman apa saja yang saya alami selama seminggu untuk bisa kita bawa bersama kurban Kristus di altar.

Kedua, seluruh ritus yang sudah ditata rapi bukanlah sekadar urut-urutan yang tidak bermakna. Semua dibuat berjenjang sehingga pada puncaknya hati kita siap menerima Kristus. Di awal kita disiapkan untuk memeriksa batin dan mengaku dosa, lalu mendengarkan sabda, baru masuk ke Liturgi Ekaristi.

Karena itu, ketika sudah masuk gereja, fokuslah pada semua urutan kegiatan itu. Bahkan, saat menyanyi dan berdoa pun kita perlu rasa-rasai dan cecap kalimat yang kita doakan atau nyanyikan. Jangan biarkan pikiran kita pergi melayang kemana-mana. Merasakan arti kata-kata secara sungguh-sungguh dalam doa dan nyanyian itu kunci. Selalu hadirkan pengalaman hidup kita dalam ingatan dan sandingkan dengan nyanyian dan doa yang didaraskan saat itu. Saya sering tersentuh dan menangis ketika melakukan hal ini.

Ketiga, yang paling penting adalah minta bantuan para kudus yang menjadi pelindung atau malaikat pamomong (guardian angel) kita masing-masing. Menjelang Ekaristi sekitar 30 menit atau 15 menit berdoalah minta tolong agar hati dan pikiran kita fokus pada perjamuan kudus yang akan/sedang kita rayakan.

Bagi saya, peran malaikat pamomong dan para kudus ini penting untuk menjaga hati dan pikiran serta mendoakan kita. Namun, di sisi lain kita sendiri juga sudah berniat untuk menyiapkan diri. Melepaskan kegembiraan, kesedihan, kekecewaan juga rasa syukur untuk diserahkan pada Kristus. Tinggalkan ponsel dan segala sesuatu yang tidak mendukung hati dan pikiran untuk merayakan Ekaristi.

Pengalaman saya, mengucapkan nama Yesus terus menerus dalam hati merupakan cara terbaik untuk menyiapkan hati dan pikiran menjelang Ekaristi. Kristus akan benar-benar hadir mendampingi Anda.

Menyatukan Diri dengan Kristus dan Membersihkan Dosa
Paus Fransiskus dalam sebuah homili pada perayaan Ekaristi di hadapan umat Katolik yang menghadiri Audiensi Umum (Maret 2018) menyebutkan momen iman yang mendalam mesti kita hayati pada saat mengatakan “Amin” usai menerima Tubuh Kristus dalam komuni.

Ini menjadi tanda keterbukaan kita pada kekuatan transformatif yang ditawarkan oleh rahmat Tuhan kepada kita. “Saat kita menerima komuni, sesungguhnya Kristus benar-benar datang menemui kita dan menyatukan kita dengan diri-Nya,”tegas Paus. (Bdk.https://bit.ly/2Ag7r23).

Paus juga menyatakan, bahwa dengan mengakui dan mengenali seluruh dosa yang kita lakukan membantu kita menerima Tubuh/Darah Kristus sebagai obat yang menyatukan diri kita denganNya (Santo Ambrosius).

Dengan demikian, Perayaan Ekaristi setiap hari jelas menjadikan relasi kita yang terkoyak dengan Allah terjahit kembali. Seperti ditegaskan kembali dalam Katekismus Gereja Katolik 1393 – 1394 yang menyebutkan :

Komuni memisahkan kita dari dosa. Tubuh Kristus yang kita terima dalam komuni, telah “diserahkan untuk kita” dan darah yang kita minum, telah “dicurahkan untuk banyak orang demi pengampunan dosa”. Karena itu Ekaristi tidak dapat menyatukan kita dengan Kristus, tanpa serentak membersihkan kita dari dosa yang, telah dilakukan dan melindungi kita terhadap dosa-dosa baru.

“‘Setiap kali kita menerimanya, kita menyatakan kematian Tuhan’ Bdk. 1 Kor 11:26.. Kalau kita menyatakan kematian Tuhan, kita menyatakan pengampunan dosa. Andai kata setiap kali bila darah-Nya dicurahkan, itu dicurahkan demi pengampunan dosa, aku harus selalu menerimanya, supaya ia selalu menyembuhkan dosa-dosaku. Aku yang selalu berbuat dosa, harus selalu mempunyai sarana penyembuhan” (Ambrosius, sacr. 4,28).

Seperti halnya makanan jasmani perlu untuk mengembalikan lagi kekuatan yang sudah terpakai, demikianlah Ekaristi memperkuat cinta yang terancam menjadi lumpuh dalam kehidupan sehari-hari. Cinta yang dihidupkan kembali ini menghapus dosa ringan Bdk. Konsili Trente: DS 1638.

Kalau Kristus menyerahkan Diri kepada kita, Ia menghidupkan cinta kita dan memberi kita kekuatan, supaya memutuskan hubungan dengan kecenderungan yang tidak teratur kepada makhluk-makhluk dan membuat kita berakar di dalam Dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s