Makhluk Rohani Itu Bernama Manusia


Situasi perpecahan yang terasa di masa pemilihan kepala daerah utamanya sekitar Pilgub DKI Jakarta [ tulisan ini dibuat tidak lama setelah Pilgub DKI – Anies vs Ahok ] yang mengentaskan munculnya politik identitas dan menonjolkan perbedaan kelompok dengan segala sentimennya membuat kita makin sedih. Namun, kesempatan ini juga sekaligus bisa menjadi sarana untuk berefleksi betapa pemahaman mengenai “diri” sebagai manusia begitu sempit.

Manusia dikotak-kotak dan dipecah-pecah ditambahi sentimen yang memicu kepedihan, kemarahan, kemurkaan satu sama lain. Kerekatan yang sebenarnya sudah terjalin sejak Zaman Majapahit mengendur semakin terasa di masa ini. Generasi muda kehilangan jati dirinya sebagai Bangsa Indonesia yang agung sekaligus sebagai manusia yang mulia.

Pada titik inilah sangat penting bagi kita untuk merajut kembali kesatuan Bangsa Indonesia lewat refleksi mendalam di tataran kejiwaan kita yang paling dalam. Perlu dilihat lagi bagaimana kita sebagai bangsa sekaligus sebagai manusia. Kalau tidak, perpecahan akan makin menjadi dan kita sudah terlambat untuk mengantisipasinya.

Makhluk spiritual

Satu hal yang tidak disadari bahkan diketahui apalagi direfleksikan oleh manusia Indonesia, juga oleh kita semua adalah bahwa manusia adalah makhluk spiritual dalam wadah jasmani. Pada dasarnya, manusia adalah roh, jiwa, spirit. Dan karena itu, dalam tataran ini sebenarnya sebagai jiwa kita mengenal manusia lain juga sebagai jiwa juga yang diciptakan Sang Pencipta dengan citra yang baik.

Pada dasarnya, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan cintaNya pada manusia. Dia tidak pernah mencintai manusia karena kaya, miskin, laki atau perempuan, homo atau lesbi, dari Suku Jawa, Suku Sunda atau suku-suku tertentu, atau ras mana. Tuhan mencintai jiwa manusia, inti manusia sebagai makhluk yang harus didekap, direngkuh tanpa pandang bulu sebagai roh.

Bahkan pada diri manusia yang bejat sekalipun, Tuhan tidak pernah memalingkan mukaNya yang suci. Hanya manusia yang merasa kecil dan tak layak menghadapi keagunganNya sajalah, yang dengan pikiran piciknya meninggalkan Tuhan karena merasa tak layak. Padahal, Tuhan tidak pernah merasa sedikit pun sakit hati dengan manusia yang telah berkali-kali mengingkari, menolak bahkan menghujatNya sekalipun. Buktinya, bumi tidak langsung dihajar dan dihanguskan. Manusia masih hidup dalam kubangan keserakahan dan kejahatan dan Tuhan tiada hentinya mengingatkan bahkan mencoba membujuk manusia untuk terus-menerus kembali padaNya.

Dalam konteks karya keselamatan yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Allah yang Maha Kasih rela meninggalkan kemuliaanNya untuk menyelamatkan manusia yang penuh dengan kubangan maksiat dan dosa. “Buluh yang terkulai tak dipatahkanNya, lampu yang berkedip-kedip tak dipadamkanNya.”

Maka dalam tataran roh ini manusia mestinya juga melihat manusia lain demikian adanya. Dalam tataran roh ini pula, manusia yang (seharusnya) mengenal jiwa/roh manusia lain tidak akan bersikap membedakan. Identitas menghilang dengan sendirinya. Yang ada adalah identitas sebagai sesama makhluk ber-roh yang dicintai Tuhan.

Gerakan membungkuk dengan tangan sedekap di dada dan menyebut kata “Namaste” seperti orang-orang Hindu melakukannya perlu disadari betul sebagai suatu sikap mistik yang harusnya juga menjadi sikap hidup manusia pada umumnya. Namaste, yang berarti aku membungkuk dan menyembah Tuhan yang ada dalam dirimu atau dalam Bahasa Inggrisnya “I bow the God within you.” Namaste juga berarti “Rohku yang ada dalam diriku menghormati Roh yang ada dalam dirimu” atau dalam Inggrisnya, “The Spirit within me salutes the Spirit in you.”

Keyakinan Hindu ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Kristianitas, bahkan semangat Ignatian yang dihayati para Jesuit. Setiap orang entah dia orang baik atau jahat memiliki Tuhan di dalam dirinya. Itulah yang diyakini dalam penghayatan ini.

Menggunakan semua orang

Yesus Kristus yang pernah mengatakan akan datang kedua kalinya sebenarnya sudah hadir berkali-kali di dunia untuk memengaruhi semakin banyak orang yang percaya kepadaNya agar menyelamatkan manusia-manusia lain. Menyelamatkan jiwa-jiwa, kata Santo Ignatius dari Loyola.

Dia hadir dan memengaruhi pikiran, hati, perasaan dan seluruh jiwa manusia agar menjalankan karya keselamatan yang sudah dimulainya di kayu salib. Yesus ingin agar semua orang menjadi “diriNya” juga yang bisa membawa manusia lain pada kesucian/kekudusan. Yesus tidak pandang bulu saat bekerja memengaruhi manusia. Katolik, Protestan, Muslim, Hindu, Budha bahkan para atheis dan siapa saja dipengaruhiNya agar dunia ini selamat.

Mereka yang percaya padaNya dengan sendirinya punya tanggung jawab besar karena pengetahuan, kebijaksanaan dan rahmat yang dianugerahkan pada pengikutNya sekaligus menuntut peran besar agar dunia selamat dari belenggu kedosaan.

Dia ingin agar manusia percaya bahwa hatiNya sangat manis, murah, dan penuh belas kasih. Kerahimannya luar biasa. Manusia tidak perlu takut meski banyak dosa sekalipun. Karena Dia memang datang ke dunia untuk menyelamatkan yang hilang. Bukan untuk mencari yang sudah selamat. Dia menyembuhkan yang sakit, bukan yang sehat.

BACA  JUGA : Makhluk Rohani Itu Bernama Manusia (1)

Sayang, banyak manusia tidak yakin, tidak percaya, tidak layak. Ketika jatuh dalam satu kesalahan/ dosa, kebanyakan kita merasa tidak layak untuk datang dan menghadap. Kedua kali jatuh makin merasa tidak layak. Hingga berkali-kali jatuh, sudah tidak lagi mau datang padaNya. Bukan karena apa-apa, tapi karena tidak tahu bahwa Dia sangat baik dan bakal menerimanya. Yang ada dalam pikiran manusia seperti itu biasanya perasaan tidak layak, tidak pantas untuk menerima berkahNya yang luar biasa setiap saat. Akhirnya yang terjadi, mereka (manusia-manusia) meninggalkanNya. Itulah yang diinginkan iblis dan Yesus sedih karenanya.

Pada dasarnya, belas kasih Tuhan (Yesus) yang selalu tercurah pada manusia kerapkali tidak disadari dan dimengerti manusia. Berbagai pengalaman suram dan gelap yang dilalui manusia serta pengetahuan dan pemahaman yang keliru yang diberikan guru di sekolah, orang tua di keluarga dan orang-orang lain menguat menjadi keyakinan bahwa Tuhan adalah penghukum dan selalu tak kenal ampun.

Cinta Tuhan dan Sesama

Pada dasarnya mencintai manusia lain semestinya tidak meninggalkan sikap cinta kepada makhluk lain yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Karena cinta pada manusia juga sebenarnya cinta pada alam semesta ini. Tak bisa dipisahkan. Demikian juga cinta pada Tuhan, tak bisa dipisahkan dengan cinta pada sesama.

Karena itu, tidak mungkin orang bicara “Saya mencinta Tuhan” tapi dia malah menyakiti sesamanya. Dia tidak tahu apa itu cinta. Sebagai manusia, dia tidak mengerti hakikat dirinya yang adalah buah cinta, yang juga harus belajar mencinta dan akhirnya menjadi cinta itu  sendiri.

Dalam khasanah budaya dan filosofi Jawa serta Cina dan Filosofi maupun Theologi Timur lain, sikap harmoni dengan alam semesta ini menjadi bagian penting bagi manusia sebagai makhluk yang sedang belajar mencintai.

BACA JUGA :

Makhluk Rohani Itu Bernama Manusia (1)

Yesus Datang Berkali-kali (2)

Cinta adalah tujuan manusia diciptakan. Dengan cinta manusia hidup. Dan dalam hidup itulah, manusia harus belajar mencintai lewat berbagai pengalaman mulai saat lahir, berada dalam keluarga bersama adik, kakak, ibu dan ayah serta anggota keluarga lain. Lalu menikah, punya suami/istri dan anak, bekerja dengan teman dan rekan oyang beragam. Hidup dalam masyarakat yang majemuk dan bermacamk-macam karakter dan kebiasaan. Dan masih banyak lagi tempat dan peristiwa yiang harus dilewati. Dari situlah manusia menggembleng dirinya agar bisa mencinta.

Sayang, manusia kerap tidak paham bahkan tidak tahu bahwa itulah tujuan idup yang harus dicapainya. Bukan menjadi orang kaya sekaya-kayanya, menjadi pejabat dan berkuasa, mengejar karier dengan segala macam prestasi dan penghargaan. Dalam bahasa Ignasian, manusia tidak paham perbedaan antara sarana dan tujuan. Sarana dijadikan tujuan dan tujuan justru malah dijadikan sarana. Hidup berkeluarga adalah sarana untuk belajar mencintai. Demikian juga menjadi pejabat atau penguasa. Itu juga sarana untuk mencintai.

Kegalauan manusia sering menjadikan hidup tanpa arah, disorientasi. Manusia tak tahu apa yang semestinya dicapai dan dikejarnya. Semua daya upaya disia-siakan untuk hal-hal yang sebenarnya semu dan bukan modal bagi keselamatan jiwanya. Belum punya pasangan di usia matang, sedih dan putus asa. Tidak segera punya mobil, punya momongan, hati langsung ciut alias kecil hati. Dan masih banyak contoh kegalalauan-kegalauan lain yang sebenarnya tidak perlu.

Manusia semestinya harus galau bila tak lagi mampu mencintai. Manusia harusnya berlomba-lomba untuk menjadi unggul dalam mencintai sesama, Tuhan dan lingkungannya baik yang tidak kelihatan maupun yang kelihatan.

Sayang, perlombaan yang justru dibesar-besarkan saat ini adalah mengejar kekuasaan, jabatan, kekayaan, kenikmatan duniawi, ketenaran, dan masih banyak hal lain yang sia-sia. Manusia zaman ini akhirnya tak lagi mengenali dirinya dan hakikat kenapa harus ada di dunia ini.

Sesungguhnya Tuhan hanya mengenal jiwa manusia dan berbagai amal kebaikan yang sudah dibuatnya selama hidup. Sisanya, tak ada apa pun yang bakal diperhatikan Tuhan. Mungkin lima mobil bermerek yang dimilikinya saat mati. Seratus jabatan yang dipernah disandangnya, atau berbagai gelar kesarjanaan yang pernah diraihnya. Tuhan tak hendak menghitungnya sebagai modal bagi Anda, saya, dan kita agar boleh masuk ke dalam kerajaanNya, surga.

Jadi, selain amal dan kebaikan alias cinta yang memenuhinya sebagimana cinta yang juga diterima manusia saat lahirlah, tidak ada yang lain yang membuat Tuhan terpesona dengan jiwa manusia yang menghadap padaNya. Cinta itulah yang menyelamatkan jiwa manusia.

Keselamatan jiwa yang diperoleh dengan mengembangkan cinta sebenarnya merupakan langkah mencapai kekudusan/kesucian, menjadi sempurna seperti Tuhan Allah. Itulah tujuan yang sesungguhnya. Sayang, manusia tidak pernah mengerti dan tahu hal ini.

Wahyu Tuhan

Padahal pengertian, pemahaman seperti ini seringkali disampaikan oleh Tuhan pada manusia. Hanya sayang, tidak pernah dianggap sebagai pesan. Manusia hanya paham bahwa pesan/sabda atau Firman Tuhan hanya ada di Kitab Suci yang harus dibacanya terus menerus. Itu pun kalau benar cara membaca dan memahami atau menafsirkannya. Kalau salah, bisa berabe. Pecah perang.

Tuhan hadir dan berkomunikasi dengan manusia lewat beragam cara. Sayang manusia tidak peka. Manusia sudah sibuk dan hectic dengan dunianya. Gawai, media social, televisi, radio, koran, peristiwa-peristiwa yang simpang siur baik yang dilihat langsung maupun tidak, kegalauan-keagalauan manusia menjadikan hati manusia bising. Telinga batin manusia tuli dan mata batin manusia menjadi buta.

Malaikat tidak dipercayainya. Justru pocong, kuntilanak, dan bentukan-bentukan lain yang sebenarnya hanya mengganggu pikiran dan hati manusialah yang dipercayanya. Manusia lebih percaya pada kegelapan daripada terang yang datang dari malaikat Tuhan.

Setiap hari, setiap saat Tuhan bicara pada manusia lewat pengalaman-pengalaman hidupnya atau peristiwa-peristiwa yang dilihatnya secara langsung, cerita dan teguran dari kawan atau teman hidup, pendapat orang, nasihat teman atau orangtua, artikel yang dibacanya di sebuah media, peristiwa yang dilihat di media sosial, berita yang dibacanya di lini masa, dan sebagainya.

Bahkan Tuhan berkomunikasi pada manusia lewat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang dialaminya setiap saat dan setiap hari. Kalau ada manusia yang merasa bisa melihat melalui mata batinnya, mendengar suara gaib yang membisikinya, atau mimpi-mimpi yang datang memberitahu sebelum kejadian itu datang, itu anugerah.

Namun pada dasarnya, manusia lain yang merasa tidak berbakat dengan kemampuan itu sebenarnya juga bisa memahami dan menangkap pesan Tuhan. Manusia sebenarnya sangat bisa memahami dan bercakap-cakap dengan Tuhan atau pembawa pesannya, yakni para malaikat.

Hanya satu syaratnya. Manusia harus hening. Hati manusia harus mengalami keheningan. Karena di situlah dia bisa membedakan mana yang menjadi pikiran, keinginannya sendiri dan mana yang merupakan pesan Tuhan.

Manusia harus menyingkirkan segala kebisingan yang dialaminya sehari-hari. Berhenti sejenak dari segala kesibukan yang menyita hidupnya untuk sejenak bercanda dan bercakap dengan Tuhan. Karena sejatinya Tuhan selalu bicara pada kita bahkan memberi nasihat serta solusi untuk semua persoalan yang kita hadapi.

Nyatanya, banyak manusia tidak tahu dan tidak bisa. Akhirnya yang terjadi, kesepian yang melanda hidupnya. Kegalauan merusak kedamaiannya. Dan ketidakpercayaan pada Tuhan menjadi tepi dari semua itu. Manusia merasa berjuang sendiri hingga membuat frustasi karena semua masalah yang dihadapinya kerap tak bisa diselesaikannya. Karena merasa Tuhan tidak pernah ada dan hadir.

Padahal, Tuhan selalu hadir. Malaikat yang diutusnya untuk segala macam masalah dari yang sepele sampai yang besar selalu siap membantunya kapan pun mau. Hanya dua syaratnya, manusia percaya bahwa Tuhan dengan malaikatnya itu memang ada dan menolongnya dan manusia mau minta tolong.

Tanpa permintaan tolong, malaikat bahkan Tuhan pun tidak akan bisa berbuat banyak. Tuhan juga malaikatNya menghormati free will alias kehendak bebas yang dianugerahkanNya sendiri pada manusia. Karena itu, Yesus pernah berkata “Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu dan mintalah maka akan diberikan kepadamu.”

Belajar hening setiap hari harus menjadi standard operating procedure (SOP) kita kalau hendak berkomunikasi dan bisa menangkap keinginan/kehendak Tuhan. Tanpa keheningan, bisa jadi kita akan kesulitan menangkap pesan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s