Buat Apa Aku Hidup?


Kenapa aku hidup? satu-satunya alasan hanyalah karena kita harus belajar dalam kedagingan kita. Saat kita menjadi roh (spirit), tak ada rasa sakit yang bisa kita rasakan. Kelahiran dan kehidupan, bagiku adalah saat pembaharuan, renewal. Jiwa kita akan diperbaharui.

Saat kita berada dalam kedagingan di dunia ini, rasa sakit akan terasa sekali. Dalam bentuk spirit, tak ada rasa sakit. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Periode pembaharuan tampil saat kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam kehidupan fisik, kedagingan inilah pengalaman berelasi menjadi nyata terasa.

Karena itu saat kita mulai datang ke dunia ini (ahir), sumber utama pembelajaran jiwa kita adalah relasi, relationship. Lewat kegembiraan, rasa sakit akibat interaksi dengan orang lain, kita akan mengalami perkembangan dalam jalur spritual sehingga kita bisa belajar banyak hal dari segala segi.

Relationship adalah laboratorium hidup, sebuah arena ujian untuk menentukan bagaimana kita bersikap, apakah pelajaran hidup yang kita peroleh telah kita pelajari dengan baik, untuk menemukan seberapa dekat kita dengan rencana kehidupan yang telah ditentukan. dalam relationship emosi kita muncul, dan kita bereaksi. Apakah kita sudah belajar memberikan pipi yang satu saat pipi yang lain ditampar orang lain atau kita berusaha membalasnya dengan kekerasan? Apakah kita bereaksi pada orang lain dengan pengertian, cinta, dan belas kasih atau kita bereaksi dengan rasa takut, egois dan penuh penolakan?

Tanpa relationship, kita tak akan tahu, kita tak akan bisa menguji kemajuan hidup kita. Semuanya begitu luar biasa, meski kesempatan belajar ini tampaknya begitu sulit. Maka, jangan heran bila guru kita mengatakan demikian “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu” (Mat. 10:38).

Aku ingat ketika berada di novisiat St. Stanislaus, Girisonta tempatku digodok untuk dijadikan seorang pastor. Ada kebiasaan di tempat ini untuk melakukan pendakian bersama-sama di sebuah gunung. Yang paling dekat Gunung Ungaran. Bisa juga Gunung Merbabu. Kenapa naik gunung? Itulah pertanyaan yang sering aku lontarkan. Dan jawabannya aku dapatkan setelah beberapa kali aku melakukan pendakian bersama kawan-kawanku.

Saat mendaki gunung bukanlah saat yang menyenangkan, karena jalur yang menanjak sementara masing-masing orang mesti membawa perbekalannya sendiri-sendiri. Sama seperti dengan hidup ini, saat-saat yang tidak enaklah yang menentukan kualitas hidup kita. Saat mendaki itulah kualitas kita sebagai kawan diuji, apakah dalam keadaan demikian, kita masih bisa memberi perhatian, memberi dukungan dan cinta kepada kawan-kawan meski apa yang kita jalani juga begitu berat dan tidak mudah.

Kita, berada di sini, di dunia, dalam bentuk fisik untuk belajar dan bertumbuh. Kita mempelajari sifat dan kualitas seperti cinta, kelemahlembutan (anti kekerasan), compassion, kemurahan hati, kesetiaan, harapan, memaafkan, pengertian dan kesadaran. Dan sebaliknya kita tidak perlu mengembangkan sifat dan kualitas negatif seperti egoisme, ketakutan, kemarahan, kebencian, kekerasan, ketamakan, bangga diri, prasangka.

Hanya dengan relationship-lah kita bisa mempelajari semua sikap dan kualitas hidup ini.

Pelajaran makin mendalam saat banyak kesulitan kita hadapi. Hidup denga relasi yang kurang bagus, penuh halanga dan kehilangan, kata para guru spiritual memberi kesempatan bagi jiwa kita bertumbuh lebih. Karena itu, kesulitan hidup pada dasarnya akan mempercepat kemajuan spiritualitas kita, tergantung cara kita menghadapinya.

Cinta, kata sang guru, bukanlah proses intelektual, melainkan merupakan energi dinamis yang mengalir kedalam dan melewati kita setiap kali, entah kita sadar atau tidak. Kita harus belajar menerima cinta sebagaimana kita juga belajar memberi cinta. Hanya dalam komunitas (relationship), dalam pelayanan kita dapat sungguh-sungguh mengerti semua yang mencakup sebagai energi cinta.

Ibu Teresa dari Kalkuta, India pernah berkata,”Saya yakin bila kita semua memahami hukum emas ini -bahwa Tuhan adalah cinta dan bahwa dia telah menciptakan kita untuk hal-hal yang luar biasa, untuk mencintai dan dicintai- lantas kita akan bisa mencintai satu sama lain seperti Dia mencintai setiap dari kita. Cinta sejati adalah pemberian, anugerah. Bukanlah persoalan seberapa banyak kita memberi, tetapi seberapa banyak cinta yang bisa kita letakkan dalam pemberian itu.”

Karena itu, kata Ibu Teresa, doa perlu bagi kita. Buah dari doa adalah dalamnya iman kita. Buah dari iman adalah cinta, cinta dalam tindakan dan pelayanan. Jadi, tindakan untuk mencinta dan tindakan nyata untuk memberi damai. Inilah yang disebut dengan hukum emas itu. Itulah setidaknya hasil renungan yang keluar di hari ulang tahunku kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s